Feeds:
Posts
Comments

Bubur Ayam Cianjur, Warung Sate Shinta Cabang Jl. Setiabudi Bandung

Suasana Bubur Ayam Wr. Sate Shinta

Warung Sate Shinta (lebih tepat disebut Restoran) cabang Jl. Setiabudi ini letaknya sekitar 200 m ke arah Lembang dari Pusat Factory Outlet (FO) di Jl. Setiabudi, yaitu Rumah Mode, Natural, Fashion World, Donatello, dan lain-lain.  Selain menyediakan sate yang lezat, restoran ini setiap pagi pukul 07.00 – 10.00 WIB membuka counter Bubur Ayam Cianjur.

Nah, bagi penggemar bubur ayam, tempat ini patut dicoba, sebab rasanya lumayan lezat khas bubur ayam Cianjur. Tempatnya meskipun di halaman parkir restoran, namun cukup nyaman, bersih dengan tatanan meja yang terpisah-pisah, masing-masing meja dilengkapi 4 kursi.

Buat yang lagi acara liburan ke FO sepanjang Jl. Setiabudi seperti FO Rumah Mode, Donatello dan lain-lain, tapi datangnya kepagian, nah.. tempat ini juga cocok untuk sekedar singgah, sambil menunggu FO buka, menikmati kelezatan bubur ayam cianjur Warung Sate Shinta.

Oya, berapa harga semangkuk bubur ayam ini? cuma 10 ribu rupiah, sudah termasuk teh manis atau jahe anget.  Counter ini juga menyediakan bala-bala goreng yang enak, dimana bala-bala ini digoreng setelah kita pesan, jadi masih panas dan rasanya tambah mantap, apalagi cuaca di daerah ini sangat sejuk, jadi pas deh…

Sudah habis semangkuk, Istriku masih membayangkan lezatnya Bubur Ayam

Kebetulan lokasi Bubur Ayam Warung Sate Shinta ini tidak jauh dari tempat tinggalku, kalau berjalan kaki dari rumah kira2 20 menit.  Jadi sekali2 kalau senggang sambil olah raga jalan kaki pagi, saya dan istriku mampir ke tempat ini.  Rasanya tempat ini memang cukup nyaman dengan udara paginya yang masih sejuk, tatanan meja kursi yang tidak berdesak-desakan, sehingga lebih terasa privasinya dan….hmm romantis kali ya?..

Monggo dicoba…

Hati-hati apabila mengendarai mobil maupun motor ketika melewati daerah Ciloto, tepatnya di jalan raya ciloto-puncak antara Rumah Makan Bumi AkiPos Polisi Ciloto.  Pasalnya di tengah jalan tersebut terdapat garis marka jalan tanpa putus-putus.  Kondisi ini lah yang sering menjebak pengguna jalan yang tidak sabar dan menyalip melanggar garis marka jalan tersebut.  Sudah dipastikan akan kena tilang, karena diujung jalan depan pos Polisi sudah ada petugas yang menunggu kesempatan ini.

Jadi, apabila anda melewati jalan ini, terutama yang dari arah ciloto, bersabarlah tahan diri untuk tidak menyalip, meskipun di depan mobil kita ada bus atau truk yang berjalan sangat pelan.  Kalau tidak, maka bersiap-siaplah mengeluarkan kocek antara 150 ribu – 250 ribu rupiah…

Setelah melewati pos Polisi (kalau perjalanan dari arah Ciloto menuju  Puncak), maka silahkan tancap gas, karena jalan tersebut satu arah dan cukup lebar untuk menyalip.

Kampung Long Ayan yang menjadi tujuanku ditempuh dari kota Tanjung redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur menggunakan mobil strada 4WD selama kurang lebih 3 jam. Dari kota Tanjung Redeb – Labanan (30 km an) kondisi jalan beraspal, kemudian dari Labanan – kampung Long Ayan (60 km an) kondisi jalan tanah dengan perkerasan.

Berangkat dari kota Tanjung Redeb jam 9.00. Beruntung selama perjalanan tidak ada hujan. Kondisi hujan akan sangat menghambat perjalanan, meskipun mobil 4WD, namun tetap saja akan terseok-seok manakala melewati jalan tanah yang licin ataupun berlumpur ketika diguyur hujan.

Evaluasi lokasi

Sampai di kampung Long Ayan jam 12.00, dan kami disambut Bp. Melky, salah satu Ketua RT di kampung Long Ayan. Pak Melky ini yang akan mengantar kami untuk orientasi hutan di sekitar kampung Long Ayan. Setelah melakukan evaluasi terhadap route yang akan kami lalui, maka diputuskan menggunakan route sungai dengan menggunakan Ketinting, yaitu sejenis perahu bermesin tempel, untuk menembus ke dalam hutan. Karena jalur sungai lebih memungkinkan dibanding jalan darat yang ternyata sebagian besar sudah tertutup oleh semak belukar berduri dan cukup sulit untuk ditembus..

Kampung Long Ayan berdasarkan administrasi pemerintahannya termasuk dalam Kecamatan Segah. Pusat pemerintahan kecamatan Segah berada di kampung Tepian Buah, dimana kampung Long Ayan ini dari Tepian Buah dapat dicapai melalui jalan darat selama kurang lebih 45 menit, dan dapat juga ditempuh melalui Sungai Segah selama kurang lebih 30 menit.

Rumah panggung

Kampung Long Ayan
Kampung Long Ayan terletak di tepi Sungai Segah yang dihuni Suku Gaai (dikenal juga sebagai Dayak Segai). Rumah-rumah penduduknya berbentuk panggung dari kayu dan papan berkapur putih kusam dengan atap seng gelombang tanpa cat di batasi jalan beton selebar satu meter. Berdasarkan agamanya, Kampung Long Ayan terbagi atas dua, kampung Islam dan kampung Kristen, yang ditandai dengan keberadaan gereja dan masjid. Selain Gaai, di kampung bagian Islam juga tinggal Dayak Tunjung. Sebagian besar kaum laki-lakinya bekerja keluar kampung, sehingga kampung terlihat sepi.

Suasana kampung

Menurut sejarahnya, sejak abad 18, Dayak Gaai sudah bermukim di tempat itu, bahkan sempat memiliki kerajaan (kecil) Gaai. Dayak Gaai sendiri adalah suku bangsa Bahau, yang biasa dikenal dulunya dengan sebutan Suku Modang yang berasal dari Apo Kayan dan melakukan migrasi saat peperangan, dan penaklukan masih marak di daerah pedalaman. Di hutan dekat kampung ini, terdapat peninggalan sejarah tengkorak dan mandau yang diletakkan oleh ketua adat dan tidak semua anggota suku boleh melihat. Masih dipandang sebagai benda keramat. Peninggalan itu sendiri adalah sisa dari tradisi pengorbanan manusia dalam upacara-upacara ritual di masa lampau.

Ketinting sudah siap

Ketinting sudah siap….
Semula kami akan menyusuri sungai Segah menuju ke arah hulu dan menentang arus, tapi ternyata kondisi arus sungai sangat kencang, menurut Pak Melky cukup riskan dan berbahaya. Sungai segah ini merupakan sungai yang sangat lebar, yaitu sekitar 100 – 150 m. Akhirnya untuk masuk ke dalam hutan kami mulai dari anak sungai Segah, yaitu sungai Tam An. Sungai ini lebarnya hanya sekitar 10 – 15 m saja, namun hulunya cukup jauh masuk ke hutan.

Menyusuri sungai Tam An

Setelah melakukan orentasi dan pengambilan sampel-sampel pengamatan yang kami perlukan, sekitar jam 5 sore kami turun lagi ke kampung Long Ayan.

Di rumah Pak Melky sudah disiapkan makanan, yang meskipun sederhana namun cukup enak untuk dinikmati. Meskipun baru mengenal Pak Melky, namun saya dapat merasakan keramahan, keluguan dan kesederhanaan beliau. Jasa mengantar dengan Ketintingnya hanya minta 200 ribu saja, padahal di kota-kota lain di wilayah kalimantan rata-rata mereka meminta sampai 1 – 1,5 juta…..

Rayap

Bagi anda yang belum tahu mungkin mengira gundukan tanah di foto tersebut adalah sebuah bukit kecil.  Tapi sebenarnya bukit kecil tersebut adalah  rumah Rayap! – seekor binatang berukuran kecil – yang suka bikin sebel karena membuat keropos kayu-kayu bangunan rumah kita.   Namun sementara ini kita buang rasa sebel pada si Rayap ini, sebab mau gimana lagi, memang yang dimakan adalah selulosa yang diantaranya terdapat pada kayu.  Selain itu juga rayap suka makan kertas, karena kertas bahan yang paling dasarnya adalah kayu juga, jadi jangan heran kalo rayap juga suka membuat kertas atau buku tulis kita acak2an robek sana robek sini.  Rayap mengkonsumsi kayu, kertas, dan bahan-bahan yang mengandung selulosa, karena rayap mampu mencerna dan mengurai serat kayu..  Beda dengan manusia, karena pencernaan manusia tidak mampu mengurai serat kayu.  Manusia hanya mampu memanfaatkan saja produk2 berbahan dasar kayu tersebut, seperti kusen, buku tulis, kertas ataupun tissue.

Continue Reading »

Di peta Kalimantan Timur, tampak gugusan Pulau Derawan bagai noktah, namun pada salah satu pulaunya, terdapat kekayaan alam yang menjadi warisan dunia tepatnya berupa danau air payau/tawar di tengah Pulau Kakaban. Bagi wisatawan yang menyukai wisata petualangan dan bahari maka mengunjungi kawasan seluas 774,2 Ha adalah pilihan tempat berlibur yang menawarkan keindahan dan keunikan tersendiri. Secara administratif kawasan itu masuk dalam Kabupaten Berau, di utara Kaltim pada perairan Laut Sulawesi.

Continue Reading »

P. DerawanPulau Derawan berada di Kalimantan Timur, termasuk wilayah Kabupaten Berau.  Pulau Derawan merupakan salah satu di kepulauan yang disebut Kepulauan Derawan.  Selain pulau Derawan, terdapat juga pulau-pulau lain yaitu Pulau Maratua, Pulau Sanlaki, Pulau Kakaban.  Pulau Derawan adalah sebuah pulau dengan permukaan air laut berwarna gradasi biru dan hijau yang memukau, hamparan pasir nan lembut, barisan pohon kelapa di pesisir pantai, dengan hutan kecil di tengah-tengah pulau yang merupakan habitat dari bermacam jenis tumbuhan dan hewan serta keindahan alam bawah laut yang mempesona.  Tidak heran apabila pulau ini bisa menempati urutan ketiga teratas sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf dunia dan menjadikan pulau ini sebagai pulau impian bagi para penyelam.

Penyu hijau di pantai P. Derawan Continue Reading »

23 Pebruari 2009 – Kota Sengata, Kab. Kutai Timur

Tujuan ke kota Sengata aku tempuh melalui perjalanan yang cukup melelahkan.  Dimulai dari Bandara Cengkareng Jakarta jam 14.45 WIB, menuju Balikpapan dengan pesawat Lion ER90.  Pesawat yang dimiliki Maskapai penerbangan Lion jenis ini relatif masih baru sehingga take off maupun landingnya cukup nyaman.  Didukung oleh cuaca yang baik, hanya ada gumpalan awan di beberapa tempat, perjalananku menuju Balikpapan tidak terlalu membuat perasaan khawatir. Meskipun sudah puluhan kali naik pesawat, namun rasa khawatir kadang-kadang muncul kalau hamparan langit dihiasi oleh awan-awan tebal,pesawat akan terombang-ambing seperti naik angkot di jalan berlubang-lubang, bahkan kadang-kadang seperti naik ayunan pada waktu masih TK dulu.

Pesawat landing dengan mulus di Bandara Sepinggan Balikpapan diiringi oleh gerimis.  Perjalanan dari Cengkareng ke Sepinggan sebenarnya 2 jam, namun karena posisi waktu di Balikpapan 1 jam lebih cepat, maka sampai di Balikpapan jam 17.45 WIT, kalo di Jakarta masih jam 16.45 WIB.

Balikpapan ke Sengata tidak ada route penerbangan, sehingga jalan yang memungkinkan adalah melalui jalan darat.  Karena perjalanan ke Sengata memakan waktu kurang lebih 6 jam dan hari sudah menjelang malam, maka aku memutuskan menginap dulu di Balikpapan, besok pagi baru berangkat ke Sengata.  Sebenarnya balikpapan ke Sengata normalnya dapat ditempuh 5 jam, namun karena kondisi jalan dari Bontang – Sengata rusak cukup parah, maka lebih lambat sampai Sengata.  Menuju kota Sengata dari Balikpapan rutenya adalah Balikpapan – Samarinda – Bontang – Sengata.

Continue Reading »